Dzikrulloh Membentuk Orang Bertaqwa

Perkataan takwa atau taqwa dengan segala variasi bentuknya dalam berbagai penyebutan dalam al Quran dan hadits Rosululloh Saw, para ulama menta’rifkan taqwa secara berbeda susunan redaksionalnya, tetapi intinya sama antara yang satu dan yang lain saling melengkapi.

Taqwa ialah melaksanakan perintah-perintah Alloh SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya secara lahir dan batin dengan disertai rasa mengagungkan dan takut kepada Alloh SWT.

Kalau hanya sikap batin saja tanpa disertai perbuatan atau sikap lahir yang sesuai dengan tuntunan syari’at Alloh, misalnya hanya eling, ingat kepada Yang Maha Pencipta tanpa disertai pelaksanaan syariatnya, maka yang demikian itu tidak dapat dikatakan taqwa. Demikian pula kalau hanya berupa sikap lahir, misalnya berbuat baik tapi akidahnya musyrik, maka ini juga tidak dikatakan taqwa.

Jadi taqwa itu merupakan sikap lahir dan batin yang bertumpu pada keimanan dan tauhid.

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Umar bin Khothob ra pernah bertanya tentang taqwa kepada Ubay bin Ka’ab, lalu Ubay menjawab: “Apakah Anda pernah melewati jalan yang penuh duri?”, Umar menjawab: “Ya, pernah”. Ubay bertanya, “Apa yang Anda lakukan saat itu?”. Umar menjawab: “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.” Lalu Ubay menimpali, “Itulah taqwa”.

Dengan kata lain taqwa itu gabungan dari kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalan. Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, serta harapan semu terhadap segala sesuatu yang tak dapat diharapkan realisasinya, ketakutan palsu yang tidak pantas untuk ditakuti, dan masih banyak duri jalan yang lainnya.

Di samping definisi di atas, taqwa juga artinya menjaga jangan sampai Alloh SWT marah, membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Oleh karenanya kita harus menjaga tiga macam hubungan dengan sebaik-baiknya yaitu hubungan dengan Alloh, hubungan dengan diri sendiri, dan hubungan dengan orang lain.

Menjaga Hubungan dengan Alloh

Hendaknya manusia menjaga diri dari hal-hal yang akan membuat Alloh SWT murka.

Hubungan antara hamba dengan Alloh dilukiskan melalui hadits Mu’adz bin Jabal yang bercerita, katanya: saya pernah diboncengkan Nabi Saw di atas himar, lalu Nabi bertanya kepada saya:
Wahai muadz tahukah engkau apa hak Alloh atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba atas Alloh?
Saya menjawab: Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.
Nabi Saw bersabda: hak Alloh atas hamba ialah hendaklah hamba-hamba itu beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya, dan hak hamba Alloh ialah bahwa Alloh tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. (HR. Bukhori dan
Muslim)

Jadi untuk menjaga hubungan baik dengan Alloh ialah dengan jalan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya yang hal ini memang merupakan dasar diciptakannya manusia sebagaimana firman Alloh SWT:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.S. adz Dzariyat : 56)

Yang sudah barang tentu semua dilakukan dengan menjauhkan perbuatan syirik. Dengan beribadah ini seorang manusia merasa dirinya sebagai ‘abd (hamba) yang harus senantiasa menghamba dan berbakti serta mengabdi kepada al Ma’bud, yang tidak berani menentang perintah dan melanggar larangan-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya al Ubudiyyah, halaman 38 menta’rifkan ibadah demikian:

Ibadah ialah sebutan bagi segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin. Karena itu lanjut beliau maka sholat, zakat, puasa, haji, berkata benar, menunaikan amanah, berbuat baik kepada kedua orang tua, menyambung kekeluargaan, memenuhi janji, beramar ma’ruf dan bernahyi munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, berbuat baik kepada tetangga dan anak anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, kepada hamba sahaya, kepada binatang, berdoa,
berdzikir, membaca al Quran dan lain-lainnya termasuk ibadah. Demikian pula cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya, takut kepada-Nya, dan bertaubat kepada-Nya, ikhlas dalam menjalankan agama-Nya, sabar terhadap hukum-hukum-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, ridho menerima qodho dan qodar-Nya, bertawakkal kepada-Nya mengharapkan rahmat-Nya, takut akan azab-Nya dan sebagainya, semua itu termasuk ibadah kepada Alloh.

Dengan menjadikan hidup selalu dalam suasana ibadah kepada Alloh SWT, maka hubungan antara hamba dengan Alloh SWT akan demikian dekat. Kalau hubungan dengan Alloh sudah dijalin sedemikian dekat, maka sudah barang tentu hamba tidak akan dimarahi dan dibenci oleh-Nya, bahkan sebaliknya akan selalu dicintai-Nya.

Dalam hadits Qudsi Alloh SWT berfirman:

“Sesungguhnya Aku sebagaimana sangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku beserta dia di mana dia mengingat-Ku. Bila diingatnya Aku di dalam dirinya, Aku akan ingat pula dia dalam diri-Ku; dan bila diingatnya Aku dengan cara yang baik dan sempurna lagi, Aku ingat pula dia dengan cara yang lebih baik dan sempurna lagi. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, Aku dekati dia sehasta, bila dia mendekati-Ku sehasta, Aku dekati dia sedepa; dan apabila dia mendatangi-Ku (ibarat) berjalan, Aku dekati dia (ibarat) berlari.” (Muttafaq alaih)

Menjaga Hubungan dengan Diri Sendiri

Dimensi taqwa yang kedua ialah menjaga hubungan yang baik terhadap diri sendiri jangan sampai bertindak yang akan menimbulkan dhoror kepada diri sendiri, yang berarti diri sendiri harus diusahakan selamat dari azab yang mengerikan.
Di dalam al Quran surat at Tahrim ayat 6 Alloh SWT mengingat orang-orang mukmin dengan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya ialah manusia dan batu, yang penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras.”

Alangkah kasih sayangnya Alloh SWT kepada hamba-hamba-Nya, usaha penyelamatan diri adalah merupakan kepentingan setiap manusia seandainya tidak ada yang menyuruhnya berbuat begitu. Tetapi hal ini justru diperintahkan oleh Alloh dan ditunjukkan pula jalannya. Oleh karena itu sebagai manusia yang normal, sudah barang tentu perintah Alloh itu kita sambut dengan penuh antusias dan kita ikuti petunjuk-petunjuk-Nya dengan baik agar diri kita selamat.

Menjaga Hubungan dengan Orang Lain

Manusia sebagai makhluk ijtima’i tidak mungkin dapat hidup sendirian. Oleh karena itu ia memerlukan orang lain agar kehidupannya dapat berjalan dengan lancar, saling memberi dan saling menerima. Dalam berinteraksi dengan orang lain ini kita tidak boleh saling mengganggu dan menyakiti, merusak dan membuat kerusuhan. Bahkan sebaliknya harus saling berbuat baik, berbuat yang positif dan bermanfaat.

“Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. (H.R. al Qudha’i dari Jabir dengan isnad Hasan Mukhtashar Syarah al Jamiu ash Shoghir 2 : 12)

Di dalam hadits lain Rosululloh Saw bersabda, artinya:

“Orang muslim ialah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, dan orang mukmin ialah orang yang orang-orang lain merasa aman mengenai darah dan harta mereka dari gangguannya.” (H.R. Ahmad Tumudzi, Nasai, Hakim, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairoh dan diriwayatkan oleh Thobroni dari Wailah Mukhtashor Syarah al Jami’u ash Shoghir 2 : 326)

Di dalam surat al Qhoshos ayat 77 Alloh SWT berfirman, yang artinya:

“Dan berbuat baiklah (kepada manusia) sebagaimana Alloh telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Alloh tidak suka kepada yang orang-orang yang berbuat kerusakan.”

bersambung…

Advertisements

Author: Madrasah Peradaban

Taat ka Hadorot Ilahi nu ngabuktikeun parentah dina agama jeung nagara.

1 thought on “Dzikrulloh Membentuk Orang Bertaqwa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s